Cerita Tamansari Bandung, Jangan dulu emosi!

Cerita Tamansari Bandung, Jangan dulu emosi!

foto : balebandung.com

Cerita tamansari Bandung menjadi obrolan mamet kali ini. Stop jangan dulu emosi! mamet hanya ingin mengajak melihat sisi lain dari kejadian yang sedang ramai saat ini. Karena dengan adanya media informasi yang sangat mudah didapatkan, warga indonesia sekarang banyak banget kebawa emosi karena hanya lihat dari satu sisi. Situasi ini pasti ada yang bakal seneng, siapa? yap betul ! Oknum!

Kali ini sebetulnya mamet hanya ingin merangkum penjelasan tim humasnya pemerintah kota bandung agar kita bisa melihat kasus ini dari sisi pemerintah, karena saat ini media hanya mengangkat kekerasan dan bentrok antara warga dan aparat. Ups, mamet mengutuk keras adanya pertikaian, itu uda gak bener! harusnya semua bisa berjalan baik dan musyawarah jika tidak ada oknum yang menjadi kompor dalam permasalahan ini, kuncinya kita yang tidak terlibat langsung harus bisa berusaha melihat secara helicopter view dengan melihat dari berbagai sudut pandang masalahnya.

oke, tanggal 13 Desember akun twitter @ndeeen_ (nurul) yang merupakan public relation-nya bandung sedikit membuka sudut pandang lain. Tapi yaa.. gak paham juga sih, kok masih ada yang bilang buzzer dan lainnya. Mamet melihat bukan 100% membenarkan apa yang di sampaikan oleh nurul di twitternya hanya saja berterima kasih karena memberi kita  kesempatan untuk menganalisa kembali permasalahan yang viral beberapa hari kebelakang.

Berawal dari program pemerintah Rumah Deret Tamansari yang bertujuan mengurangi daerah kumuh di Kota bandung yang ditujukan (mungkin) salah satunya RW 11 tamansari. Tujuannya tidak lain agar lahan yang ada bisa dimanfaatkan dengan baik juga tertata menjadi lebih enak dilihat, serta menjadikan kawasan layak huni agar warga Bandung semuanya bahagia.

Konsep Rumah Deret ini bisa membuat hunian warga menjadi berkali-kali lipat dari yang sekarang. Karena dengan pemanfaatan dan tata ruang lahan yang tepat tentunya akan menambah kapasitas huni juga akan terasa lebih luas. Jumlahnya adalah sebanyak 400 unit dengan berbagai tipe. Otomatis tidak hanya warga RW 11 yang bisa menikmati, tapi masyarakat berpenghasilan rendahpun akan bisa ikut menikmati.

Proses pembuatan rumah deret ini adalah dengan cara memindahkan warga RW 11 ke tempat lain, dan kembali dengan suasana baru. Kenapa dipindah? karena lahannya akan dibangun dulu. Proses pemindahan ini, warga akan menerima kompensasi untuk biaya mengontrak diluar daerah tamansari. Rumah deret ini jika sudah selesai dibangun, nantinya warga diharuskan membayar sewa sekitar Rp.100.000 - Rp. 250.000 sesuai dengan tipe yang diambil nantinya, namun untuk warga RW 11 akan mulai membayar sewa di tahun ke - 6. Dari 187 KK, 176 KK menyetujui dengan proses dan koonsep yang ditawarkan.

Nah, kawan-kawan semoga kita tidak langsung menganalisa sebelum tahu informasi dari berbagai sisi yah. Untuk temen-temen yang mau baca cerita lengkapnya monggo di cek disini

Salam
Obrolan Mamet

0 Comments