Menjadi Hujan

Menjadi Hujan


Orang – orang dewasa itu aneh, mereka bilang menyukai hujan tapi selalu berlindung dibalik payung, berlindung dibalik atap. Bahkan, beberapa dari mereka malah memaki karena membuat baju mereka basah.

Mereka tidak benar – benar menyukai, hanya mulutnya saja, tindakannya tidak. Mereka hanya mencari sensasi, nyatanya mereka menyesali hujan yang tak kunjung reda, mendinginkan udara sekitar, atau bahkan membuat pakaian tak kunjung kering saat dijemur.  Makian dan cacian yang justru keluar dari mulut mereka.

Suka hanya sebatas kata, hanya sebatas status di medsosnya, hanya untuk menampilkan foto sebagai pendukung ke populerannya.
Manusia banyak yang seperti itu, karena manusia sudah terlatih untuk berpura – pura dihadapan orang lain. Memanipulasi sikapnya dan menyaring kata – katanya menjadi manis, meski tidak di dalam hati dan pikirannya. 
Bagaimana bila sesekali kita mendengar kata orang, bahwa mereka menyukai kita padahal dibelakang itu semua mereka tidak demikian? Bahkan kita yang sering menjadi bahan pembicaraan mereka ? 

haha, ya sudahlah … memang itu semua yang sering kita temui kan. Hanya hujan yang akan turun dan tidak peduli dengan banyak orang yang menyesali kehadirannya. Akan tetap turun dan tetap turun untuk mereka yang membutuhkannya.

Kita hanya tidak perlu menghabiskan pikiran dan hati kita bahkan waktu kita hanya untuk memikirkan orang – orang yang tidak suka kepada kita.  Dan saya, akan belajar seperti hujan. Mencurahkan hati dan pikiran untuk orang yang bisa menghargai kita.

Karena hujan akan tetap turun meski ia dibenci, karena ia datang bukan untuk mereka…      
Hujan dating untuk mereka yang bisa menghargai dan membutuhkannya…

Obrolan mamet dengan seorang sahabat.

0 Comments