Cerita pendek industri rokok

Cerita pendek industri rokok

Dokumentasi pribadi

Rokok, cerita pendek industri rokok, disanjung dan dibenci. Di Indonesia, rasanya rokok adalah teman dekatnya para lelaki bahkan dulu, kaum hawa pun dekat dengan produk yang satu ini. Betapa tidak jika kita lihat di warung kelontong dekat rumah atau di mini market,  ratusan jenis produk rokok ditawarkan. Bahkan produk ini menjadi produk utama yang disediakan mayoritas pebisnis warung kelontong. 
Rokok itu ibarat gula, konsumen adalah semutnya

kalimat yang menggambarkan betapa dibutuhkannya produk kontroversi ini. Secara hitungan modal dan untung memang sangat jauh, rata-rata  pebisnis hanya mendapat Rp. 500 - Rp 1.500 dan untuk sebagian ada juga yang lebih rendah dari itu.

Saat ini, banyak sekali yang menentang keberadaan produk yang menyumbang triliunan rupiah kepada negara dari hasil cukai. Ditambah lagi dengan munculnya PP 109 tahun 2012 yang secara umum membatasi pergerakan promosi produk. Tidak cukup sampai disitu beberapa daerah seperti bogor sudah menurunkan aturan dilarang kerasnya produk ini beredar. 

Menurut sejarah, kretek bermula dari pria asal kota Kudus bernama haji Djamari pada awal abad 19 yang merasakan sakit pada bagian dada dan mengoleskan minyak cengkeh di dadanya kemudian membaik. Setelah itu beliau memodifikasi minyak cengkeh itu disatukan dengan tembakau yang saat itu sedang tren dihisap oleh para pria. Maka jadilah lintingan berunsur cengkeh dan tembakau dan dinamakan kretek. Nama itu diambil dari suara hasil pembakaran berbunyi "kretek-kretek". Jika teman-teman ingin membaca sejarah kretek, saat ini sudah banyak artikel mengenai rokok kretek.

Tapi, bagaimana dengan perjalanan produk ini di Indonesia? Jika kita lihat pendapatan hasil tembakau, Indonesia mendapat suntikan yang sangat besar untuk APBN. Katadata.co.id menyampaikan data tren kontribusi pendapatan hasil cukai yang nilai nya terus naik padahal secara aturan produk tembakau benar-benar dipersempit

Pada 2018, penerimaan CHT sebesar Rp 152,9 triliun. Pada 2019, diproyeksikan penerimaan CHT meningkat 3,9% menjadi Rp 158,9 triliun. Bahkan di tahun 2020 target pendapatannya mencapai Rp 171 triliun. Target ini dibarengi dengan kenaikan cukai oleh pemerintah sebesar 35% di awal tahun 2020.

Secara logika sederhana, produk ini dibenci namun ternyata begitu mensupport pendanaan negara. Lalu bagaimana dengan keuntungan bagi masyarat?

Secara peraturan undang-undang yang muncul pada Pasal 74, perseroan yang menjalankan kegiatannya di bidang dan atau yang berkaitan dengan sumber daya alam wajib melakukan tanggung jawab sosial dan lingkungan dan jika tidak dijalankan maka akan ada sanksi yang berlaku bagi perusahaan. Melihat peraturan tersebut lalu apa yang dilakukan perusahaan rokok dalam menjalaninya ?

Persahaan besar seperti PT. HM Sampoerna, PT. Gudang garam dan PT. Djarum tentu melaksanaan apa yang menjadi peraturan pemerintah. Program-program dari Sampoerna Foundation, Djarum Foundation dan CSR dari gudang garam begitu sering kita dengar dan lihat baik di media sosial atau di lingkungan. Sampoerna foundation yang mengusung program pendidikan, Djarum foundation dengan bakti untuk negerinya di bidang olahraga dan lingkungan serta Gudang garam yang turut serta melaksanakan program yang banyak. Jelas perusahaan-perusahaan ini menyisihkan sebagian keuntungan untuk pelaksanaan program. Dengan semakin besar dan banyak macam CSR yang muncul, otomatis secara pendapatan bertambah. Dan pendapatan bertambah akan seiring dengan banyaknya produk yang dibeli oleh masyarakat.

Berbicara tentang produk yang satu ini jelas tidak akan ada habisnya, pro dan kontra saat ini semakin menumpuk dan banyak jika membahas satu produk ini. Berbagai macam cara untuk menghentikan konsumsi produk ini pun tidak sedikit. Gadang-gadang penyakit dan resiko yang didapat dari konsumsi produk ini pun santer disebarluaskan. Namun rasanya jika dilihat dari hasil pendapatan cukai, pola-pola itu dirasa percuma. Disanjung namun dibenci rasanya sangat cocok untuk dibahas. 

Menurut kalian apa yang harus dilakukan? Apa benang merah yang harus diambil mengingat berbagai macam keuntungan dan kekurangan yang dihasilkan dari produk ini. Mamet mungkin hanya sedikit menyapaikan dilematis ini. Dan artikel ini perlu dikembangkan lagi. Yuk kita ngobrol di kolom komentar dibawah ini dengan bijak :)

0 Comments